PEKANBARU, CEPASIA.ID- Malam itu, senin menuju selasa, 16 September 2025. Lampu-lampu jalan tampak temaram, sementara suara mesin aspal bergaung di depan gerbang masuk Rumah Sakit Syafira. Dari jauh, orang-orang melihat ada aktivitas: beberapa pekerja menambal jalan yang rusak. Namun, anehnya, hanya sebidang kecil, kira-kira lima meter, tepat di depan rumah sakit itu.
“Bagai ceplok telur,” ujar aktivis Riau, Cep Permana Galih, ketika menyaksikan hasil tambal sulam itu. “Yang di tengah diisi, tapi tepinya tetap kosong dan berlubang. Sepanjang Jalan Puyuh Mas masih bopeng, seakan-akan dibiarkan.”
Jalan itu memang menjadi saksi bisu lalu-lalang pasien dan keluarga mereka. Lubang-lubang menganga di sepanjang aspal sudah seperti kubangan setelah hujan. Namun yang diperbaiki hanya di depan gerbang rumah sakit. Selebihnya, dibiarkan tak tersentuh.
Masyarakat bertanya-tanya: mengapa hanya itu? Padahal, dari titik itu menuju Masjid Kuba, jalanan rusak parah, penuh lubang. Wali Kota Agung Nugroho hadir dengan rombongan malam-malam, seolah melakukan perbaikan kilat. Tetapi bagi sebagian warga, langkah itu justru menimbulkan tanda tanya besar.
“APBD 2025 kita 3,2 triliun. Masak hanya cukup buat tambal lima meter jalan?” kata Cep, suaranya meninggi. “Ini terkesan pencitraan. Pemimpin harusnya punya niat memperbaiki keseluruhan, bukan hanya tempelan di depan rumah sakit. Jangan sampai rakyat menganggap pemimpinnya hanya sibuk dengan panggung, bukan dengan kenyataan.”
Kini, sepanjang Jalan Puyuh Mas masih dikeluhkan warga. Aspal tambal sulam malam itu seperti fragmen kecil yang tak sanggup menutupi kenyataan sesungguhnya. Lubang-lubang tetap menganga, menanti ban motor dan roda mobil yang lewat, menjadi simbol kegagalan merawat infrastruktur dasar kota.
Di ujung cerita malam itu, Pekanbaru masih bertanya: apakah ini sekadar tambalan, ataukah sebuah sandiwara?













